11 Tahun PAN:Reformasi Politik di Tengah Terpaan “Tsunami”


Minggu, 23 Agustus 2009, Partai Amanat Nasional (PAN) akan genap berusia 11 (sebelas) tahun. Momentum ini rasanya sangat tepat bila diisi dengan mengevaluasi gerakan reformasi. Relevansi dari evaluasi ini karena PAN, sejauh ini, kelahirannya dianggap sebagai antitesis atas realitas politik yang ada dengan mengusung gerakan reformasi politik dengan Amien Rais sebagai tokoh utamanya.

Masalahnya kemudian, gerakan reformasi politik tak lagi memiliki daya tarik disebabkan karena, pertama, semua partai politik yang muncul di permukaan pada umumnya menyodorkan tema reformasi politik, hatta partai-partai yang tokoh-tokohnya teridentifikasi menjadi bagian dari pilar politik Orde Baru yang secara substantif bertolak belakang dengan semangat reformasi.

Kedua, disebabkan karena gerakan reformasi politik belum memiliki cetak biru yang mampu dipahami secara massif, maka pada tataran implementasinya banyak mengalami hambatan, bahkan mengalami kontradiksi-kontradiksi yang pada akhirnya justru mendelegitimasi gerakan reformasi. Contoh yang paling menonjol adalah meluapnya euforia politik yang cenderung tanpa kendali yang berefek pada semakin sulitnya melakukan konsolidasi demokrasi.

Sejatinya, luapan euforia politik itu bisa dipahami lantaran efek balik dari tekanan-tekanan politik sebelumnya. Guillermo O’Donnell dan Philippe C. Schmitter (1986) menyebut luapan euforia politik semacam ini sebagai proses liberalisasi yang signifikan. Tapi, di sejumlah negara yang diteliti keduanya, proses itu tidak berjalan kokoh sehingga berpotensi menjadi sesuatu yang “berbeda” dari realitas politik sebelumnya namun belum tentu menjadi lebih baik.

Gerakan reformasi hanya menjadi seranai ketidakpastian, yang diisi antara lain oleh serangkaian pemerintahan yang datang silih berganti tanpa memberikan alternatif baru yang lebih baik, minimal mampu menjanjikan kehidupan yang lebih sejahtera, damai, dan adil bagi segenap rakyat. Suasana politik seperti inilah yang kita rasakan di Indonesia.

Stigma Negatif Reformasi

Gerakan reformasi yang tidak menarik adalah buah dari kegagalan partai-partai politik, tak terkecuali PAN. Bahkan, pada saat muncul stigma negatif terhadap gerakan reformasi yang katanya menyebabkan “repotnasi”, PAN merasa menjadi partai terdepan dalam menanggung beban untuk melakukan upaya destigmatisasi tersebut.

Sayangnya, segala upaya yang dilakukan PAN tidak cukup memadai untuk menanggulangi tugas berat itu. Yang paling utama disebabkan karena dalam pemilihan umum nasional PAN belum berhasil memperoleh dukungan rakyat yang cukup untuk menjadi pionir gerakan reformasi.

Upaya yang dilakukan PAN untuk menggandeng kekuatan lain dengan cara membangun kekuatan “Poros Tengah” pun gagal di tengah jalan, antara lain disebabkan karena bangunan kekuatan itu tidak dilandasi kesamaan platform dan ketulusan untuk mengkonsolidasikan demokrasi, melainkan hanya untuk sekadar menghambat laju tokoh partai politik tertentu. Dan nasib konsolidasi demokrasi menjadi semakin tidak jelas pada saat tokoh yang bersangkutan juga tak cukup berhasil pada saat diberi kesempatan memimpin gerakan reformasi.

Ketidakberhasilan gerakan reformasi menjadi beban terberat yang harus dipikul PAN beserta partai-partai politik lain yang memiliki semangat dan platform politik yang relatif sama.

Upaya Memperluas Basis

Upaya menggalang kerjasama dengan partai-partai lain, meskipun memiliki plaform politik yang relatif sama, terbukti tidak bisa diandalkan. Platform politik boleh sama tapi keinginan elite setiap partai politik tak selalu sama, inilah problem terbesar dalam setiap menjalin kerjasama antar partai.

Oleh karenanya, satu-satu jalan yang harus ditempuh adalah upaya memperluas dukungan, meningkatkan perolehan suara dalam Pemilu. Mimpi besar PAN merealisasikan gerakan reformasi hanya bisa terwujud bila PAN diberi kesempatan untuk memimpin gerakan itu, syaratnya tentu bila PAN mendapatkan dukungan suara mayoritas rakyat.

Mengapa PAN belum berhasil meraih dukungan yang signifikan? Menurut studi yang dilakukan, baik oleh kalangan internal PAN (yang dilakukan Badan Litbang) maupun yang dilakukan lembaga-lembaga riset di luar PAN, bisa disimpulkan bahwa ada dua penyebab utamanya.

Pertama, PAN dipersepsi sebagai partai elite yang jauh dari jangkauan (kepentingan) masyarakat level bawah (grassroot). Persepsi ini muncul terutama disebabkan karena dua hal: (1) platform atau bahkan jargon-jargon politik PAN cenderung idealis dan tidak down to earth; (2) para kader dan pimpinan PAN pada umumnya dari kalangan akademisi, atau setidaknya dari kelompok kelas menengah ke atas.

Kedua, dalam peta segmentasi politik nasional, posisi PAN berada pada ruang yang masih sempit, yakni Islam modernis. Basis dukungan politik PAN masih terbatas dari kalangan Muhammadiyah yang menurut sejumlah survai anggotanya lebih kurang hanya 10 persen dari seluruh penduduk Muslim di Indonesia. Dari segi amal usaha Muhammadiyah memang besar, tapi dari segi anggota, organisasi yang didirikan KH Ahmad Dahlan tahun 1912 silam ini tidak cukup besar. Apalagi, dalam tradisi Muhammadiyah tidak ada loyalitas tunggal dalam menyalurkan aspirasi politik.

Beranjak dari dua kekurangan itulah, di bawah kepemimpinan Soetrisno Bachir, PAN melakukan upaya reposisi, dari elitis menjadi populis, dari segmentasi Islam modernis menjadi ke “tengah” bahkan menyerempet ke “kiri”.

Soetrisno Bachir –yang popular disapa SB– berusaha membangun PAN secara populis dengan jargon-jargon politiknya yang mudah dipahami publik, misalnya dengan “PAN Partai Orang Biasa,” dan “Hidup adalah Perbuatan.” Dalam batas-batas tertentu, upaya ini berhasil mengangkat popularitas SB namun belum mampu menambah perolehan suara PAN secara signifikan.

Untuk memperluas segmentasi politik PAN, SB berupaya membuka PAN menjadi pasar bebas yang bisa dimasuki dan dipilih siapa pun, dari kalangan nasionalis sekuler, marhaenis, dan para nahdhiyyin (warga NU). Pokoknya, segmen masyarakat dalam kategori Clifford Geertz (1960), abangan, santri, dan priyayi, semuanya akan dirangkul PAN. Untuk manarik dukungan mereka, daftar calon legislatif PAN, selain diperuntukkan bagi para kader dan loyalis partai, juga diberikan kepada tokoh-tokoh masyarakat dan para pesohor (artis). Di luar dugaan, hasilnya juga kurang memadai. 

Terpaan “Tsunami”

Upaya memperluas basis dukungan PAN sudah dilakukan berdasarkan rekomendasi hasil survai sejumlah lembaga studi independen yang sengaja diajak bekerjasama dengan PAN. Upaya itu belum berhasil tentu bukan lantaran rekomendasinya yang kurang tepat. Tetapi karena ada faktor eksternal yang luput diantisipasi.

Faktor eksternal yang dimaksud adalah adanya mobilisasi gerakan dan dukungan yang massif terhadap partai pemerintah, serta munculnya partai-partai baru yang sangat agresif dalam melakukan kampanye politik, terutama di media massa. Saking dahsyatnya kekuatan ini, PAN menyebutnya sebagai bentuk terpaan “Tsunami” politik.

Jika dilihat secara proporsional, di tengah terpaan tsunami yang dahsyat itu, PAN relatif masih kokoh. Bandingkan misalnya dengan partai-partai besar lainnya (kecuali PKS) yang mengalami penurunan suara signifikan. Di bawah SB, PAN relatif bertahan bahkan mampu menaiki anak tangga, dari urutan keenam (2004) menjadi kelima (2009), menggeser PPP yang sebelumnya di atas PAN.

Selain itu, faktor mekanisme penghitungan dan peralihan suara (dari suara pemilih menjadi kursi), juga ikut berpengaruh bagi turunnya perolehan kursi PAN. Jika cara penghitungan dan peralihan suara menjadi kursi dilakukan sebagaimana yang terjadi pada 2004, barangkali kursi PAN tak mengalami penurunan. Wallahu’alam!

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s